Tuesday, November 10, 2020

Rutinitas Rumah Sakit dan Insight "You'll Never Walk Alone" Mengisi Soreku yang Syahdu ...

 
Ilustrrasi rumah sakit (Source: www.wphealthcarenews.com)

Di tengah suasana sore yang syahdu setelah diguyur hujan deras bercampur angin yang menumbangkan dua pohon kersen di jalur perjalanan dari rumah menuju rumah sakit … saya mengantarkan Mama saya kontrol rutin. 

Sempat terpikir membatalkan agenda yang sudah saya susun sejak minggu lalu, tetapi saya batalkan niat itu … mengingat kalau sampai batal, proses pemeriksaan dengan BPJS Kesehatan harus mengulang dari awal, yakni dari Faskes I untuk meminta surat rujukan.

Singkat cerita, sambil memastikan dokter masih praktek—syukurlah beliau praktek sampai pukul 18.00—saya pun meluncur ke rumah sakit bersama Mama dengan GoCar, lalu tak sampai 60 menit kemudian sudah sampai ke rumah lagi. 

Kok cepat? Ya, hari ini tidak selama biasanya karena kami datang sekitar jam 4, sedangkan dokter sudah mulai praktek sejak 13.30. Saya sudah bikin perkiraan sekitar jam 4 giliran Mama saya, karena beliau mendapat nomor  antrian 22.

Itu cerita awalnya. Sekarang saya akan lanjutkan dengan pemikiran yang kerap terlintas setiap kali mendekati “Hari-H” pemeriksaan rutin, yang bisa berlangsung 2-3 kali dalam satu bulan. Jujur, terkadang ada rasa malas, juga lelah karena rutinitas ini sudah berlangsung bertahun-tahun. 

“Duh, periksa lagi, periksa lagi. Antri lagi, antri lagi. Bolak-balik RS lagi, bolak-balik RS lagi….”

Suara itu terkadang bergema dalam benak saya. Sesekali terlontar keluar lewat gumaman kecil, terutama ketika fisik sedang lelah dan banyak pikiran karena pekerjaan. Namun, hari ini saya seperti mendapat insight baru, yang rasanya akan saya pakai sebagai “senjata penguat diri” ketika pemikiran semacam itu mulai keluar.


Momen Berinteraksi dengan Orang Lain

Ilustrasi ucapan terima kasih (elizabethivanecky.com)

Ternyata, saya baru “terbuka” dan menyadari bahwa aktivitas keluar rumah secara nyata (bukan virtual atau lewat dunia maya), membuat saya dapat berinteraksi dengan banyak orang, lalu dapat memetik pelajaran hidup dari perjumpaan dan  pengamatan itu!

Misalnya pagi tadi, di tengah kejengkelan karena layanan proses verifikasi data BPJS Kesehatan yang lambat, saya belajar menghargai bantuan seorang perawat yang mau menolong mengurus ulang berkas sebagai persyaratan untuk Rujuk Balik ke Faskes I … karena berkasnya terselip entah ke mana. Memang bagian pemberkasan mungkin salah, tetapi saya menghargai upaya yang dilakukan oleh perawat tadi.

Setelah itu … saya pergi ke ruang fotokopi, lalu merasa terkejut ketika petugas fotokopi menarik Rp. 6.000 untuk biaya fotokopi 15 lembar. Mungkin sedikit mahal, tetapi saya segera menyadari saya tidak sedang hidup pada tahun 2000, dimana fotokopi seharga Rp. 150-200 per lembar masih wajar.

Lantas … sore ini ketika menunggu datangnya mobil GoCar yang kami pesan, saya melihat ketulusan seorang anak yang rela menggendong ayahnya, yang baru saja menjalani kontrol, lalu mendudukkan di sebuah mobil … sebelum ia dan anggota keluarga lain menyusul masuk dan mobil itu melesat pergi. 

Setelahnya, seorang bapak tanpa diminta membantu memegangi kursi roda, sementara saya membopong Mama masuk ke dalam mobil. Saya bahkan belum mengucapkan terima kasih, orang itu sudah pergi ketika saya berkata: “Nanti kursi rodanya dibawa kok, pak!” Artinya …. Bapak ini hampir membantu menepikan kursi roda itu tanpa diminta!

Bertemu dengan Fans Liverpool dan Slogan YNWA

Ilustrasi mobil fans Liverpool (https://www.carousell.sg/p/liverpool-car-decal-209227330/)



Akhirnya, saya cuma tersenyum (ngakak dalam hati) ketika menyadari bahwa mobil yang kami tumpangi ada tempelan khas klub Premier League, yakni Liverpool, lengkap dengan slogan khasnya “YNWA” yang kita tahu punya singkatan “You’ll Never Walk Alone.”

Biasanya, maaf ya fans Liverpool, saya agak gimanaaaa gitu setiap kali membaca atau mendengar slogan itu, tetapi sore tadi ungkapan yang sama seperti bermakna lain. Ya, seperti ada suara dalam hati mengingatkan: 

“Kamu tidak berjalan sendiri, Nak.”

Sebagai orang Kristen, saya paham bahwa Tuhan senantiasa bersama saya. Namun, hari itu saya mendapat insight baru, bahwa saya sedang tidak menjalani kerepotan seorang diri dalam merawat Mama dalam usia tuanya, yang sudah menginjak 71 tahun. 

Ada istri yang selalu mendukung, ada mertua yang setiap hari mendoakan, ada kakak-kakak dengan segala dukungan, dan keponakan-keponakan yang kerap menyegarkan jiwa yang penat dengan segala tingkah polah mereka.

Lalu hari ini … ada orang-orang yang memberi saya pelajaran hidup, juga tentunya fans Liverpool tadi yang dengan sangat baik melayani keperluan kami. Dibuatnya posisi mobil sedekat mungkin dengan teras, sehingga dengan 3-4 langkah, saya dapat membopong dan mendudukkan Mama di kursi roda sebelum mendorong dan memasukkannya. Saya pun membalas kebaikan itu dengan memberinya bintang lima, menuliskan sedikit ucapan terima kasih, dan memberinya sedikit tip. 

Sesekali fans Manchester United berbagi berkat dengan fans Liverpool nggak masalah kan? Hahaha …! Itulah sebabnya juga, saya menggunakan slogan “YNWA” sebagai pelengkap gambar kali ini, meski pembahasan kali ini sama sekali tidak terkait urusan atau rivalitas sepak bola Eropa. 

**** 
Nah ... sekian dulu cerita saya. Semoga dapat menjadi berkat dan memberi insight baru bagi pembaca. Mohon dukungan doanya untuk kesehatan Mama saya, juga agar saya sering mendapatkan hal-hal baru untuk diceritakan terkait aktivitas seputar rumah sakit ini. Mau kan?

NB: Artikel ini telah dimuat di laman Seword.com pada Selasa, 10 November dengan judul yang sama.


Monday, December 3, 2018

Liburan Akhir Tahun Nanti, Tak Harus Menginap di Kawasan Malioboro, Lho!

Jalan Malioboro (Bon Voyage Jogja)

Beberapa waktu lalu, seorang teman lama minta dibantu dicarikan hotel untuk rencana liburannya ke Yogyakarta. Masalahnya tanggal yang dipilih termasuk long-holiday alias high-season, sedangkan ia meminta dicarikan hotel di kawasan Malioboro. Hasilnya, bisa diduga bahwa saya kesulitan mencarikan hotel sesuai kriteria yang diinginkan oleh teman saya.

Sempat saya menawarkan untuk mencari hotel dengan lokasi agak jauh sedikit dari kawasan Malioboro, sedangkan untuk travelling ke tempat-tempat wisata dapat dilakukan menggunakan taksi online atau menyewa sepeda motor. Sayang, mungkin karena teman saya dan keluarganya masih berpikiran agak konservatif, tawaran saya tidak ditolak mentah-mentah. Ia lebih memilih mencari menggeser tanggal liburannya dengan tetap mencari penginapan di kawasan Malioboro. Keputusan yang tepat!

Namun, bicara soal liburan ... apalagi menjelang libur Natal dan Tahun Baru nanti (liburan sekolah juga kan!) sepertinya masa liburan panjang ini tetap dijadikan pilihan, sekalian berkumpul dan merayakan bersama keluarga. Yogyakarta pun menjadi salah satu destinasi, dengan kawasan Malioboro menjadi salah satu lokasi favorit untuk menginap!

Nah, membahas soal memilih tempat menginap sembari berlibur, sebagian besar orang masih memilih penginapan di sekitar lokasi wisata. Kawasan Malioboro (sekali lagi) masih menjadi destinasi idaman bagi para wisatawan lokal yang ingin ke Yogyakarta. Faktor historis, viralnya Maliboro, wisata kuliner dan belanjanya, juga lokasi yang berdekatan dengan Stasiun Tugu menjadi beberapa alasan utama wisatawan masih memilih Malioboro. 

Alasan lainnya ... menginap di kawasan Malioboro membuat wisatawan tak perlu berjalan jauh, bisa mondar-mandir berkali-kali, atau kalau habis wisata belanja biar bisa segera sampai ke penginapan!

Namun, pilihan tersebut ada konsekuensinya. Pelancong atau wisatawan harus siap merogoh kocek lebih dalam, juga harus secepat mungkin mengamankan pesanan kamar hotel supaya tidak keduluan orang lain! 

Konsekuensi lainnya adalah wisatawan perlu bersiap dengan hiruk-pikuk atau keriuhan massa yang mungkin sedikit mengusik ketenangan. Bagi yang mendambakan liburan dengan tenang, tentu hal ini dapat mengganggu kenyamanan.

Nah, berhubung sebentar lagi kita akan memasuki masa liburan akhir tahun, dengan potensi okupansi hotel di kawasan Malioboro yang dipastikan akan sangat tinggi, tiga langkah berikut mungkin tertarik untuk Anda coba pada liburan akhir tahun ini, khususnya bagi Anda yang ingin menghabiskan liburan Natal dan akhir tahun di Yogyakarta.

Pertama, tentukan tujuan dari liburan Anda. Hal ini akan menentukan tipe penginapan seperti apa yang akan Anda pilih, berapa budget untuk penginapan, dan tentunya itinerary dari liburan Anda kali ini. Yogyakarta dan sekitarnya memiliki beragam pilihan tempat wisata, tak hanya kawasan Malioboro, pantai Parangtritis, atau Candi Prambanan.

Kedua, carilah penginapan di luar kawasan wisata. Jika rencana liburan Anda tak hanya melulu soal makan, belanja, dan bermalas-malasan di hotel, memilih untuk mencari penginapan yang sedikit jauh dari lokasi wisata dapat menjadi pilihan yang tepat. Biasanya harga juga relatif lebih murah, sehingga dana bisa dialokasikan untuk keperluan lainnya. 

Apalagi jika Anda hanya ingin menjadikan penginapan sebagai tempat untuk beristirahat setelah puas berkunjung ke berbagai tempat wisata, maka penginapan dengan budget miring bisa Anda pilih. Tawaran penginapan “murah-meriah” ala Airy Room atau Reddoorz mungkin dapat Anda coba.

Kenapa hotel murah meriah bisa jadi pilihan? Tentu saja selain alasan harga, juga fungsinya. Bukankah penginapan hanya difungsikan sebagai tempat beristirahat, lalu sebagian besar waktu Anda habiskan untuk beraktivitas di luar penginapan? Cobalah!

Ketiga, manfaatkan jasa sewa kendaraan bermotor. Jika Anda masih single, sudah menikah tapi belum memiliki anak, atau memiliki anak yang masih kecil, manfaatkanlah jasa persewaan sepeda motor yang tersebar di berbagai lokasi di Yogyakarta. Hanya dengan budget tak sampai 100 ribu rupiah per hari, Anda bebas menggunakan sepeda motor untuk berpetualang ke manapun. Lebih irit, fleksibel, dan memungkinkan Anda lebih hafal jalan-jalan di daerah Yogyakarta.

Bagaimana kalau tersesat? Tak perlu takut tersesat karena selain Anda dapat memanfaatkan berbagai rambu petunjuk ke lokasi wisata, Anda bisa menggunakan jasa peta digital yang ada di gadget Anda, atau jika sampai terdesak, keramahan masyarakat Yogyakarta masih dapat diandalkan untuk menolong mengarahkan wisatawan ke tempat yang hendak dituju.

Nah, itu tadi sedikit tips yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat dan selamat merencanakan liburan ke Yogyakarta pada liburan sekolah, Natal, dan Tahun Baru 2018 ini ya!

****
Tulisan ini tak hendak menyudutkan penginapan di kawasan Malioboro, tetapi hanya memberi alternatif pilihan kepada pembaca blog ini. Semoga bermanfaat!
****


Sunday, December 2, 2018

Kebab Ternyata Enak Juga!

Minggu sore (2/12/2018), sekadar melepas lelah dan menyegarkan pikiran, saya bersama istri tersayang spontan  ber-HHS sambil kulineran dengan rute yang dekat-dekat saja. HHS atau Halan-halan Sore (istilah yang bagus kan? Hehehe!) kali ini sengaja kami arahkan di daerah Pedan, Kabupaten Klaten, khususnya di sekitar pasar.

Beberapa kali kami melewati daerah pasar Pedan ini, tapi kami jarang berhenti, juga belum pernah mencoba satupun kuliner yang banyak bertebaran di sana. Padahal, ada cukup banyak “bakul” kuliner, mulai dari PKL, gerobak dorongan, sampai warung dan resto yang berjajar di sekitar pasar Pedan. 

Ibaratnya, asal dompet siap, tinggal pilih mau berhenti dimana sesuai selera masing-masing! Hahaha ...!

Eits, sebelum cerita soal pengalaman nyobain kuliner ala Turki bernama KEBAB, kami sempat captured beberapa view sepanjang jalan yang tampak bagus menjelang matahari terbenam. Langsung saja intip beberapa gambar berikut. Maafkeun kalau gambarnya kurang tajam karena cuma pakai kamera HP yang ala kadanya:

Matahari diasapi (dok.pri)
Bukan Menara Eiffel lho ya (dok. pri)
Segarnya mata lihat pemandangan begini (dok. pri)
After that ... begitu memasuki areal jalan di sekitar pasar Pedan, kami tertarik membaca promo Kebab yang ditawarkan oleh resto “Mister Burger” yang terletak tak jauh dari lapangan di dekat pasar Pedan. Begitu masuk, kami segera pesan kebab yang ori, karena hanya itu satu-satunya menu Kebab yang saat itu tersedia. 

Pinginnya sih nyobain daging domba (lamb) yang tertulis di daftar menu, tapi kata Mbak dan Mas-nya yang jaga ... baru nggak available! Nggak apa-apa deh ... nyobain yang isinya daging sapi juga oke!

Eng, ing, eng ... inilah ... kebab Turki ala kulineran Klaten!

Dua porsi kebab untuk kami berdua (dok. pri)
Yang kuning-kuning itu mayonaise. Cara makannya biar asyik, diiris sedikit-sedikit kayak makan steak itu lho! Jangan langsung dipegang, lalu dilahap ya... karena kenikmatannya bisa berkurang!

Jadi isi dari kebab itu ada daging sapi, irisan acar dan wortel, yang diolesi (istilah saya) “bumbu rahasia” dari yang masak. Hahaha... Daging sapi di dalamnya berukuran lumayan tebal, masih anget-anget pula pas disajikan, jadi semakin maknyusss rasanya!\

Harganya? Relatif terjangkau sih, karena seporsi dibanderol  Rp. 18.000. Kalau dagingnya dirasa masing kurang, atau mau ditambah sesuatu lagi ... bisa kok ditambah telur, sosis, atau keju ... tapi bayar lagi beberapa ribu rupiah. Belum termasuk minum ya!

“Enak nggak?” (lihat saja ekspresi saya ini)
 
Siap menyantap!

Saking enaknya, bro! (dok. pri)

“Parkir? Gimana parkir kena berapa?” mungkin ada yang nanya. Normalnya sih tarif parkir zaman now ya Rp. 2000-an untuk sepeda motor, tapi kemarin kami nggak ditarik parkir sama sekali tuh!

Saran saya ... sebaiknya untuk nyobain makan di sini pakai sepeda motor saja. Kalau pakai mobil, parkirnya nggak bisa persis di depan warung MB-nya karena space-nya sangat terbatas!

Nah, sekian cerita HHS dan kulineran kami. Semoga sukses membuat kalian ngiler ya! Wkwkwkwkw...! (Kalau ngiler berlanjut, silakan tengok saldo di rekening atau ketebalan dompet, lalu segera ke lokasi ya!)

Salam kuliner dari Klaten! 


Friday, November 30, 2018

Jangan Buru-buru Beli Baru! Jas Hujan Anda Masih Bisa Ditambal dengan Cara Ini!

Musim hujan sudah datang ... Salah satu masalah yang sering dialami para pengendara motor alias biker seperti saya adalah jas hujan yang sobek, robek, atau suwek! Biasanya orang yang berpikir praktis akan langsung mengganti jas hujan tersebut alias membeli yang baru.

APAKAH HANYA ITU PILIHANNYA?


Ilustrasi jas hujan sobek (ist)
Nah, masalah ini dulunya juga saya alami ... sampai sebel rasanya karena harus keluarin duit ekstra untuk membeli jas hujan baru.  Namun, akhirnya saya ke klinik Tong Fang ... eh, bukan ding ... saya berkenalan dengan sebuah merk lem ajaib, masalah itu pun dapat teratasi. 

Ini lemnya, yang sangat berjasa saat musim hujan begini tiba. Maaf bukannya mau promosi produk lem, tapi setahu saya cuma lem ini. Hehehe ...


Lem G yang ajaib (ist)
Caution dari saya: Lem ini SANGAT KERAS!

Jadi, Anda perlu berhati-hati saat memakainya. Usahakan jangan sampai kena kulit karena akan terasa sangat panas, nempel sangat kuat, dan susah diilangin (dibersihin)! Buat Anda para pegawai yang harus hadir di kantor dengan sidik jari, jangan sampai kena bagian jari yang Anda pakai untuk finger-scan, nanti bisa nggak terbaca sidik jari Anda. Serius! 

Oya ... lem ini bisa dipakai beberapa kali selama lem di wadahnya belum mengeras. Namun, biasanya lem akan susah menetes dari atas karena bagian atasnya tersumbat oleh cairan lem yang mengeras. Namun tenang, Anda nggak perlu panggil dokter, tukang urut, apalagi sampai panggil Paspampres ...! Hahaha ...

Cukup ambil jarum yang jahit atau benda runcing lain, lalu masukkan ke mulut wadah lem sampai jarum terasa menembus sesuatu. Artinya, sumbatan sudah bolong dan lem siap dipakai lagi. 

****
Sekarang cara pakainya, yang sering saya praktikkan:

Cara Pertama:

1) Buka kardus wadah lem, lalu keluarkan lem dari kardusnya.
2) Buka tutupnya, siapkan jarum dan masukkan dari bagian atas sampai penutup lem (bagian dalam) 
    bolong. Lem siap digunakan.
3) Siapkan jas hujan yang sobek, rusak, atau bolong.
4) Teteskan atau oleskan lem pada tepian bagian yang robek.
5) Rekatkan bagian sebelahnya untuk menutup bagian yang robek atau lubang
6) Diamkan beberapa saat atau tiup-tiup (jauhkan dari mata saat meniup!)
7) Robekan tertambal dan jas hujan siap dipakai. 

Cara Kedua:

1) Buka kardus wadah lem, lalu keluarkan lem dari kardusnya.
2) Buka tutupnya, siapkan jarum dan masukkan dari bagian atas sampai penutup lem (bagian dalam) 
    bolong. Lem siap digunakan.
3) Siapkan jas hujan yang sobek, rusak, atau bolong.
4) Siapkan sobekan kain (bisa dari potongan jas hujan lain) untuk menambal. (seperti nambal ban)
5) Teteskan atau oleskan lem pada tepian bagian yang robek.
6) Rekatkan kain penambalnya ke jas hujan yang robek
7) Diamkan beberapa saat atau tiup-tiup (jauhkan dari mata saat meniup!)
8) Robekan tertambal dan jas hujan siap dipakai.


Ilustrasi jas hujan yang tertambal (ist)
Catatan akhir dari saya ... sebelum mencoba tips ini, pastikan jas hujan kesayangan Anda robekan-nya alias suwek-nya masih belum "keterlaluan" ya. Nah, kalau sudah coba trus berhasil, kasih tahu hasilnya di kolom komentar ya.

Selamat mencoba teman-teman!

Tuesday, November 27, 2018

Melok Bangga Rek! Surabaya Masuk 15 Besar Finalis Guangzhou International Award 2018

Surabaya ... Surabaya ... Oh Surabaya ...

Kota kenangan ... Kota kenangan ... Takkan Terlupa ...

****
Apakah ada yang ingat dengan lirik lagu itu? 

Yes, sebagai Arek Suroboyo asli, ingatan akan Surabaya sebagai kota kelahiran dengan segala macam perkembangannya sampai hari ini, sungguh masih membekas dalam benak saya. Apalagi dengan berita terbaru yang langsung disampaikan lewat vlog-nya Ibu Tri Rismaharini, seperti dimuat dalam akun Instagram@surabaya:


Screenshoot woro-woro dari ibu Risma – Instagram@surabaya
Intinya, Bu Risma sedang mengumumkan bahwa Surabaya masuk sebagai 15 besar finalis ajang Guangzhou International Award (GIA) for Urban Innovation 2018! Ajang penghargaan GIA memang ditujukan untuk kota-kota di seluruh dunia yang dianggap terbaik dalam urusan pengelolaan lingkungan di kota tersebut.


Surabaya masuk 15 besar dengan menyisihkan 193 lain dari 66 negara di seluruh dunia yang mengikuti ajang GIA 2018. Sementara, 14 kota lainnya antara lain Yiwu dan Wuha (China), Mezitli (Turki), Sydney (Australia), dan 10 kota lainnya. 
Trus gimana kelanjutannya?

Ya, masih ada. Saat ini ajang tersebut masuk dalam proses voting yang bisa diakses di website: vote.guangzhouaward.org atau bisa diikuti dalam langkah-langkah berikut (dilansir dari laman Tribunnews):

1) bit.ly/surabayamendunia
          2) Vote kota Surabaya plus 2 kota lain – ketentuan vote pilih 3 kota

          3) Masukkan kode captcha dan klik SUBMIT

         4) Ulangi setiap satu jam sekali 
Nah, buat kamu yang belum ngeh dengan keindahan Surabaya di bawah komando Bu Risma, silakan bisa lihat dari 5 bukti gambar di bawah ini:



Pemandangan pantai Kenjeran lama (IG@aslisuroboyo)

Pemandangan Taman Bungkul dari atas (IG@aslisuroboyo)

Indahnya bunga-bunga di Taman Apsari  (IG@aslisuroboyo)
Kalau ini di jalan Ahmad Yani (IG@aslisuroboyo)

Gugur bunga di sekitar jalan Gubeng (IG@aslisuroboyo)
Naaah ... gimana ... jadi kepingin ke Surabaya kan habis baca informasi dan melihat foto-foto ini? Hayuukkk ...! Hahaha ... 
Semoga bisa menang atau minimal tembus 5 besar deh, supaya ada kesempatan presentasi langsung di hadapan para juri plus bisa promosi Surabaya dan Indonesia ke seluruh dunia. Tapi Rek ... tak kandhani ... apa pun hasil-e ... aku tetap bangga karo perkembangan Suroboyo saiki ... Jakarta kalah adoh! Hahaha ...

Pisan engkas tak ngomong ... 

Buanggane akuuuu sebagai Arek Suroboyo! 

****
Sumber berita di sini:



Monday, November 26, 2018

Syukuran Bersama para Blogger Yogyakarta ala PAXEL

Selamat datang kembali di blog ini. Maaf baru aktif kembali setelah sekian lama tak mengunggah tulisan. Kali ini saya akan membagikan sedikit "oleh-oleh" dari perkenalan saya dengan "PAXEL", jasa ekspedisi yang lumayan baru dengan konsep yang berbeda. 

Konsep yang langsung dapat terlihat saat "Co-Founder"-nya menyapa langsung para blogger yang diundangnya untuk syukuran sekaligus perkenalan PAXEL di Yogyakarta. Seperti apa? Langsung simak saja ulasannya berikut ini:

****
Apa yang ada dalam benak Anda saat mendengar acara promosi produk atau layanan jasa yang terbilang sebagai “pemain baru”? Istilah “soft-opening”, “grand-opening”, “atau “launching” biasanya kerap dipakai. Bagaimana dengan SYUKURAN?

Itulah istilah yang dipakai oleh Djohari Zein saat menyampaikan sepatah dua patah kata dalam acara PAXEL Blog Gathering Yogyakarta pada Sabtu (24/11/2018). Bertempat di lantai 3 dengan ruangan transparan berdinding kaca ala Ling-Lung Kopi & Eatery, Sleman, DIY, kisah perjalanan bisnis dan kehidupan pribadi Djohari menarik perhatian puluhan blogger yang sengaja didatangkan untuk menghadiri “syukuran” sekaligus perkenalan dari PAXEL.

Dalam pemaparannya, Djohari berkata bahwa para blogger ini dikumpulkan bukan untuk acara promosi, melainkan untuk meminta doanya terkait perluasan cakupan layanan PAXEL yang mulai masuk wilayah Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Sebelumnya PAXEL telah eksis terlebih dahulu di wilayah Jabodetabek dan Bandung.

Djohari Zein, Co-Founder PAXEL (keluargahamsa.com)

Apa beda PAXEL dengan layanan ekspedisi lain?

Pertanyaan di atas muncul juga dalam acara tersebut, termasuk saya yang merasa penasaran juga. “Kalau tidak ada nilai lebihnya, ngapain beralih pakai PAXEL?” pikir saya dalam hati. Ternyata pertanyaan saya terjawab lewat pemaparan dari “orang-orang penting”-nya PAXEL.

Menurut penangkapan saya selama mendengar pemaparan tersebut, setidaknya ada empat hal menarik yang coba ditawarkan oleh PAXEL:

PERTAMA, konsep “SameDayDelivery” atau pengiriman pada hari yang sama. Menggunakan aplikasi yang dapat diunduh lewat Playstore atau Google Play, dengan syarat dan ketentuan yang ada, PAXEL berupaya mengirimkan paket SEHARI SAMPAI kepada para pelanggan atau pengguna layanan ekspedisi ini.

KEDUA, biaya kirim paket tidak dihitung berdasarkan jarak (kilometer), tetapi tarif flat berdasarkan standar paket (custom) yang ditetapkan pihak PAXEL. Misalnya, pada masa promosi ini, PAXEL menawarkan kiriman dengan harga Rp. 25.000 saja untuk kiriman area Solo-Jogja-Semarang.

KETIGA, bukti pengambilan dan pengantaran paket. Salah satu prosedur yang diterapkan oleh manajemen PAXEL adalah memotret paket ketika kurir (disebut dengan HERO) mengambil barang dan ketika barang sampai. Si penerima paket (jika bersedia) juga akan difoto, yang selanjutnya dapat dilihat oleh si pengirim paket pada aplikasi PAXEL di gawainya sebagai bukti bahwa kiriman akan sampai.

KEEMPAT, estimasi waktu paket tiba. Jika ekspedisi lain mungkin tak menargetkan pukul berapa paket akan diterima, maka PAXEL mencoba menawarkan pilihan kepada si pengirim, untuk “memperkirakan sendiri” paket akan sampai ke penerima. Hal ini cukup positif karena si penerima paket tak perlu menunggu seharian untuk menerima paket tersebut, seperti yang sering terjadi.


Pengalaman Mencoba PAXEL

Saya sendiri sudah mencoba mengirim lewat PAXEL, sekaligus ingin memanfaatkan “saldo kebaikan” sebesar Rp. 100.000 yang diberikan oleh PAXEL saat men-download aplikasinya. Saya mengirim “bingkisan” yang saya peroleh dari acara tersebut ke alamat kantor.

Barang pun saya terima dengan baik, lengkap dengan foto paket, nama penerima, waktu penerimaan barang, dengan “sejarah pengiriman” yang dapat saya ikuti (telusuri) lewat aplikasi PAXEL di gawai pribadi saya.

Terkejut sedikit saat melihat pengemasan yang rapi, juga kalimat motivasi beserta secarik kartu ucapan terima kasih dari PAXEL, seperti ada di gambar ini:

Oleh-oleh dari kumpul Blogger yang dikirim lewat jasa PAXEL

Ucapan terima kasih dan kalimat inspiratif dari manajemen PAXEL

Jadi, apakah Anda mulai tertarik untuk mencoba PAXEL? Silakan langsung unduh aplikasinya lewat Playstore atau Google Play, dapatkan saldo gratis sebesar Rp. 100.000 langsung, lalu mulailah berpetualang dengan mengirim paket pertama Anda. Jangan lupa setelah unduh aplikasi, masukkan referral code ini ya: widodo1305.

****

Terakhir, saya ucapkan “Selamat!” buat mulai beroperasinya PAXEL ke wilayah Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Sukses untuk Bapak Djohari dan seluruh tim dari PAXEL. Semoga masyarakat bisa semakin merasakan kemudahan dalam mengirimkan paket barang, plus merasakan langsung sentuhan kebaikan seperti yang menjadi slogan dari PAXEL.

Sukses buat PAXEL!

Monday, September 5, 2016

Aroma "Asia Tenggara" dalam Mechanic Resurrection

Poster film Mechanic Resurrection (Sumber: Lionsgate)
Poster Mechanic Resurrection (Lionsgate)
Bagi Anda penggemar film laga Hollywood, terutama fans berat Jason Statham, jangan sampai melewatkan film terbaru Statham berjudul Mechanic Resurrection yang sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Film yang dibintangi antara lain oleh Jason Statham, Jessica Alba, Michelle Yeoh, dan Tommy Lee Jones ini merupakan sekuel dari film The Mechanic yang dirilis sekitar 5 tahun silam (2011).

Secara singkat, film ini bercerita mengenai kembalinya Arthur Bishop dari masa istirahatnya sebagai pembunuh bayaran karena ulah dari Crain, kenalan lamanya, yang berulah dengan menculik Gina, wanita yang diselamatkan oleh Bishop dari kekerasan fisik yang dilakukan oleh Frank.

Demi menyelamatkan wanita yang berhasil membuatnya jatuh hati, Bishop harus menuruti permintaan Crain untuk membunuh tiga orang, di lokasi yang berbeda, yang harus terlihat sebagai tragedi kecelakaan. Bishop yang digambarkan sebagai tokoh yang sangat jenius, akhirnya berhasil melakukan dua target awal yang diberikan oleh Crain.

Rencana Crain agak terganggu setelah Bishop menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan oleh Crain untuk menyingkirkan saingan bisnisnya. Target ketiga bernama Max Adams justru diajak kerja sama untuk menjebak Crain, sampai akhirnya musuh lawas Bishop itu terbunuh bersamaan dengan meledaknya kapal mewah yang dimilikinya.

Film Mechanic Resurrection ini dinilai "Statham banget" dengan aksi laganya. Sosok Statham yang berusia 49 tahun terlihat masih jago beraksi. Namun, bukan aksi Statham maupun jalan cerita yang menjadi fokus dari artikel ini.

Secara pribadi, saya dan istri "sepakat" bahwa sisi lain yang menjadi nilai jual dari film ini terletak pada pemandangan yang sangat memanjakan mata. Film yang mengambil lokasi antara lain di Brazil, Thailand, Bulgaria, dan Malaysia ini cukup dominan memunculkan spot-spot yang indah dari beberapa negara tersebut.

Beberapa panorama alam yang sangat memikat antara lain seperti ada pada beberapa gambar berikut: (Lihat gambar-gambar yang dimaksud pada link di bagian akhir artikel ini)

Satu pemandangan lagi yang cukup menarik adalah perairan di sekitar maximum security prison yang diperkirakan adalah daerah Jerejak Island, Penang, Malaysia. Saya sudah mencoba mencari gambarnya, yang semalam saya tonton di layar lebar, tetapi saya belum menemukannya.

Nah, di antara semuanya yang tersaji dalam film action berdurasi 98 menit itu, yang paling menarik perhatian saya adalah "aroma" Asia Tenggara yang mendapatkan porsi cukup banyak dalam film tersebut.
Ketika Arthur Bishop mencari targetnya di penjara Malaysia, beberapa dialog dengan logat Melayu jelas terdengar selama beberapa menit. Dialog Melayu tersebut terutama diucapkan oleh para sipir penjara.
Beberapa ucapan seperti "Ayo, masuk!", "Cepat, cepat!" dan beberapa kalimat terdengar sangat jelas. Jujur saya sewaktu mendengar itu, saya merasa agak terhibur karena "Bahasa Indonesia" ikut diselipkan dalam adegan ketika tokoh Bishop sedang berada di Malaysia.

Ada kemungkinan Malaysia, baik lokasi maupun bahasa setempat, dipergunakan karena kehadiran Michelle Yeoh, aktris asal Malaysia, yang juga mendapatkan peran penting dalam film tersebut. Kabarnya, animo penduduk negeri jiran tersebut juga cukup besar untuk menyaksikan Mechanic Resurrection karena negara dan penduduk mereka ikut "bermain" di dalamnya.

Ketika sampai pada adegan di Malaysia, saya pun bergumam pelan kepada istri yang berada di sebelah saya, "Sebenarnya sedikit lagi, kalau mau belok ke Indonesia bisa....semoga lain kali Indonesia dilirik karena pesona alamnya nggak kalah dengan Malaysia."

Kehadiran Malaysia yang "ikut bermain" dalam Mechanic Resurrection melengkapi keberadaan Thailand, dengan pesona pulau Koh Yao Yai, penduduk setempat, budaya, dan lagu khas Thailand yang cukup dominan muncul pada awal sampai pertengahan film.

Nampaknya para sineas Hollywood semakin menganggap penting keberadaan negara-negara di Asia Tenggara, yang memiliki cukup banyak spot bagus untuk pengambilan gambar. Nggak kalah dengan tempat-tempat di luar negeri yang sering berseliweran di berbagai film asal Amerika Serikat.

Lagipula, kehadiran penduduk lokal dengan wajah Melayu tentu akan sulit untuk ditolak karena memberikan "warna baru" dalam dunia perfilman khas Hollywood. Soal bahasa tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Belakangan ada tren penggunaan "bahasa asing" (selain Bahasa Inggris) dalam berbagai film Hollywood yang sengaja dibiarkan seperti aslinya, dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris supaya penonton dapat memahami maksudnya.

Omong-omong ... bagaimana dengan Indonesia? Apakah benar-benar tidak ada dalam film Mechanic Resurrection? Ternyata ada! "Indonesia" muncul ketika rencana untuk penuntasan misi dari Arthur Bishop ditunjukkan dalam sebuah peta, seperti pada gambar ini:
(Lihat gambar-gambar yang dimaksud pada link di bagian akhir artikel ini)

Porsi yang sangat kecil yah... harapan saya (dan mungkin para pecinta film Indonesia), semoga kelak dalam film-film Statham selanjutnya, produser maupun sutradara melirik Indonesia. Rasanya untuk panorama indah, beberapa pantai di Bali, Raja Ampat-Papua, daerah Gunung Kidul, juga beberapa wilayah pegunungan sangat layak untuk dinikmati oleh pecinta film di seluruh dunia lewat film-film Hollywood.  

Kalau mau diberi nilai dari skala 1-10 (10 yang terbaik), menurut saya Mechanic Resurrection layak diberi nilai 7,5. Anda setuju?

Mengakhiri artikel ini, saya mau menuliskan (mengucapkan):
Selamat menonton bagi yang belum menonton! Jangan sampai terlambat karena film ini seru sejak menit-menit awal. :-D

Artikel ini ditulis di Kompasiana dengan URL:
http://www.kompasiana.com/widodo.surya.putra/aroma-asia-tenggara-dalam-mechanic-resurrection_57c69c2cc823bd9d4584b2bd

Rutinitas Rumah Sakit dan Insight "You'll Never Walk Alone" Mengisi Soreku yang Syahdu ...

  Ilustrrasi rumah sakit (Source: www.wphealthcarenews.com) Di tengah suasana sore yang syahdu setelah diguyur hujan deras bercampur angin y...